728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 20 Januari 2023

    Tidak Ada Standard Operasional Untuk Hitung Selisih, Penghitungan Auditor Internal Tidak Bisa Dipertanggungjawabkan

     



    SURABAYA (mediasurabayarek.com) - Agenda pemeriksaan 4 (empat) saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Uwais SH MH dari Kejaksaan Tanjung Perak Surabaya, dalam sidang lanjutan 17 terdakwa yang merupakan karyawan  PT Meratus Line dan  PT Bahana Line, perusahaan penyalur bahan bakar minyak (BBM), yang tersandung dugaan perkara penggelapan Bahan Bakar Minyak (BBM).

    Keempat saksi fakta itu adalah Irwan Syafrudin (Superintenden/pengawas PT Meratus), Aryo Danu Saputro (Superintenden), Basuki Dwi Raharjo (Operator), dan Widi Wahyu Saputro (IT). Namun saksi Basuki Dwi Raharjo tidak bisa hadir dan memberikan keterangan di persidangan, karena berhalangan.

    Setelah Hakim Ketua Sutrisno SH MH membuka sidang terbuka untuk umum, langsung memberikan kesempatan bertanya pada Jaksa  lebih dulu untuk bertanya pada saksi.

    Giliran pertama diperiksa adalah saksi Irwan yang ditanyai Jaksa perihal apa yang saudara ketahui tentang perkara di persidangan ini ?

    "Saya ditugasi manajeman untuk meneliti kebenaran adanya dugaan selisih bahan bakar minyak (BBM) yang dibeli PT Meratus," jawab saksi.

    Menurut saksi Irwan, ketika dia naik KM Meratus Waingapu dan disuruh pimpinan berlayar dan hanya sekali, ditemukan adanya selisih BBM sebanyak 480 ton per hari. Hasil temuan ini dilaporkan ke manajemen.

    Giliran Ketua Penasehat Hukum (PH)  terdakwa Dody Teguh Perkasa, David Ellis Sinaga, Dwi Handoko Lelono, Mohammad Halik dan Sukardi,  yakni Syaiful  Maarif  SH MH  bertanya pada saksi Irwan mengenai apakah sistem pengecekan standard dari Meratus ?

    "Bukan sistem pengecekan standard. Namun pengisian awal BBM di Jakarta," jawab saksi,

    Kembali PH Syaiful Maarif  SH bertanya pada saksi tentang pengisian awal BBM di Jakarta bukan dilakukan oleh PT Bahana Line, apakah saksi tahu ?

    "Saya tidak tahu hal itu. Ada vendor sendiri," jawab saksi.

    Syaiful Maarif SH menyatakan, jika ada pengurangan BBM pasti dilakukan oleh vendor Jakarta. Sebelumnya, pengecekan tidak pernah dilakukan dan baru pertama kali ini.

    Lagi-lagi Syaiful bertanya pada saksi, bagaimana tentang kapal baru dan kapal bekas, bagaimana konsumsi BBM kapalnya ? 

    "Kalau kapal baru kemungkinan kecil ada kebocoran BBM.Jenis kapal berpengaruh, cuaca buruk dan gelombang tinggi. Jika menerobos gelombang tinggi berpengaruh pada konsumsi BBM kapal," jawab saksi Irwan.

    Saksi menyatakan, bahwa tidak ada standarisasi menghitung konsumsi BBM yang dilakukan PT Meratus.

    "Saksi ini baru pertama kali melakukan pengecekan, tetapi sudah berani menghitung selisih BBM kapal. Ada batas irit dan boros, untuk kapal boros BBM tidak ada standarisasi dari Meratus," ucap Syaiful Maarif SH.

    Kali ini, Hakim Ketua Sutrisno SH MH bertanya pada saksi mengenai bagaimana menghitung selisih BBM di kapal itu ?

    "Konsumsi BBM hari ini berapa dan saya bandingkan dengan hari sebelumnya. Ini baru pertama kali dilakukan. Lalu, saya buat laporan tertulis dan dikasihkan ke site manager," jawab saksi.

    Pengecekan yang dilakukan saksi ini bukan standard yang dilakukan Meratus. Sebenarnya, saksi baru pertama kali ini melakukan pengecekan, namun sudah berani menghitung selisih BBM kapal. 

    Ada batas irit dan batas borok pemakaian BBM kapal, tergantung jenis kapal baru atau bekas. Namun, tidak ada standarisasi di Meratus.

    Pemakaian BBM kapal juga sangat tergantung pada ketinggian gelombang ombak laut jika cuaca buruk, karena kapal pasti menghindari dan berputar, hal ini pasti membutuhkan BBM lebih banyak lagi.

    Syaiful Maarif SH juga bertanya pada saksi Aryo Danu Saputro, apakah selisih konsumsi BBM itu dilaporkan site manager ?

    "Saya tidak tahu hal itu. Antara kapal bekas dan baru pasti beda. Namun begitu, untuk 1000 jam harus diganti onderdilnya, maka tidak ada bedanya antara mesin kapal baru dan bekas," jawab saksi.

    Setelah pemeriksaan saksi dirasakan sudah cukup, Hakim Ketua Sutrisno SH MH mengatakan , sidang akan dilanjutkan pada Kamis (25/1/2023) sekitar jam 3 sore nantinya.

    Sehabis sidang, Syaiful Maarif SH  mengungkapkan, perjalanan kapal yang dilakukan Irwan dan Ario dengan tujuan pengecekan konsumsi BBM itu, dari Jakarta dan  pengisian BBMnya di Jakarta. Vendronya bukan dari Surabaya.

    Hasil temuan disampaikan untuk menghitung kerugian yang dilakuknan auditor, padahal kapal itu vendornya bukan dari SUrabaya. Sehingga tidak ada korelasinya. Contoh yang dilakukan dipukul rata. Kapal kapal itu tidak masuk dalam perkara ini.

    "Meratus ada 65 kapal. Yang masuk di situ 40 kapal dan 3 kapal yang disebutkan tidak ada di situ. Tidak ada standard operasional untuk menghitung selisih. Baru sekarang ini dihitung, sebelumnya tidak pernah dihitung dan tidak pernah ada persoalan," cetus Syaiful Maarif SH.

    Selain itu, lanjut dia, kapal baru dan kapal lama itu berbeda penggunaan BBM. Keadaan cuaca juga berpengaruh pada penggunaan atau pemakaian BBM. Misalnya, karena gelombangnya besar. Selisih konsumsi BBM tidak ada parameternya. 

    "Para saksi tidak punya lisensi. Perhitungan yang dilakukan oleh auditor internal mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan," ungkap Syaiful Maarif SH.

    Sebagaimana diketahui, ke- 17 terdakwa itu adalah Sugeng Gunadi, Nanang Sugiyanto, Herlianto, Abdul Rofik, Supriyadi, Heri Cahyono, Edi Setyawan, Eko Islindayanto, Nur Habib Thohir, Edial Nanang Setyawan, dan Anggoro Putro. Selain itu, Erwinsyah Urbanus, David Ellis Sinaga, Dody Teguh Perkasa, Dwi Handoko Lelono, Mohammad Halik, dan Sukardi. Mereka diproses dalam berkas dakwaan terpisah.

    Diduga mereka melakukan penggelapan dengan mengurangi volume pengisian BBM ke tangki kapal PT Meratus Line dari kapal tongkang penyalur BBM.  Para tersangka dianggap melanggar Pasal 374 KUHP tentang penggelapan jo Pasal 55 Ayat (1) Ke–1 KUHP. Mereka terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara. (ded)



    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Tidak Ada Standard Operasional Untuk Hitung Selisih, Penghitungan Auditor Internal Tidak Bisa Dipertanggungjawabkan Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas