728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 17 November 2022

    Dalam Dupliknya, Saksi-Saksi Sebut Harto Wijoyo Tanda Tangan dan Hadir di Sheraton

     


    SURABAYA (mediasurabayarek.com) - Sidang lanjutan terdakwa Stefanus Sulayman, yang tersandung dugaan perkara penggelapan, kini telah memasuki babak pembacaan duplik yang disampaikan oleh Ketua Tim Penasehat Hukum (PH) terdakwa,  Ben D Hadjon SH.  

    Setelah Hakim Ketua Tongani SH MH membuka sidang terbuka untuk umum, langsung mempersilahkan Ketua Tim Penasehat Hukum (PH) terdakwa,  Ben D Hadjon SH  membacakan dupliknya di persidangan.

    "Silahkan Penasehat Hukum membacakan pledoinya ya !," ucap Hakim Ketua Tongani SH kepada Ben D Hadjon SH di ruang Tirta 2  Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (17/11/2022).

    Dalam dupliknya, Ben D Hadjon SH menyinggung soal Harto Wijoyo (pelapor) yang pernah diadili dan diputus bersalah dalam perkara penipuan pada tahun 2019 di Pengadilan Negeri (PN) Malang.

    Dalam persidangan di PN Surabaya , Harto Wijoyo sempat ditanya oleh PH Ben D Hadjon SH apakah Harto (pelapor) pernah diadili dan dihukum dalam perkara penipuan tanah di PN Malang ? Akan tetapi, Harto tidak mengakuinya.

    Namun, setelah Ben D Hadjon SH menunjukkan bukti putusan PN Malang, Harto tidak bisa berkutik lagi dan mengakui di depan majelis hakim PN Surabaya, dia menjadi saksi dalam sidang lanjutan terdakwa Stefanus Sulayman pada 15 Nopember 2021 di PN Surabaya.

    Menurutnya, dalam putusan Nomor 219/Pid.B/2019/PN Malang, Hakim Ketua Djuanto  SH dengan hakim anggota M Fatkhur Rohman SH MH dan Martaria Yudith Kusuma SH MH memutuskan dalam sidang permusyawaratan majelis hakim PN Malang pada hari Rabu, 19 Juni 2019.

    Dalam amar putusannya, majelis hakim mengadili menyatakan terdakwa Harto Wijoyo telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan  tindak pidana penipuan (pasal 378 KUH Pidana).  Menjatuhkan pidana kepada terdakwa  dengan pidana penjara selama 8 (delapan) bulan penjara. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangii seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan, dan memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.

    Harto Wijoyo (pelapor) yang pernah dihukum karena kasus penipuan itu, juga menyebut dia diminta tanda tangan pada blangko kosong. Namun, keterangan saksi pelapor ini tidak didukung oleh keterangan saksi -saksi lainnya.

    Sedangkan mengenai Ikatan Jual Beli dan Kuasa Jual, hanya satu-satunya saksi korban menyatakan blangko kosong. Sedangkan saksi-saksi lainnya, menyatakan tanda tangan sesuai prosedur, karena ada Hendra Themailattu, Notaris Maria Baroroh SH, Charis Juanedi yang mengantar Harto ke tempat itu.

    Namun demikian, pembacaan duplik yang disampakan oleh  Ben D Hadjon SH tidak sampai selesai dan tuntas. Makanya, Hakim Ketua Tongani SH MH mengambil sikap, sidang pembacaan duplik dilanjutkan lagi pada Kamis (24/11/2022) mendatang.

    "Pembacaan duplik akan dilanjutkan Kamis depan ya," ujar Hakim Ketua Tongani SH MH kepada PH Ben D Hadjon SH yang dibarengi dengan ketukan palu sebagai pertanda sidang selesai dan berakhir.

    Sehabis sidang, Ben D Hadjon SH  mengatakan, pada 20 Juni 2017 di Hotel Sheraton masih dalam perjalanan dari Malang ke Surabaya, kami secara tegas menolak.

    "Berangkat ke Surabaya bersama Yohanes M, saksi Charis Junaedi sama -sama , walapun beda mobil. Bagaimana mungkin semua sampai Sheraton, Harto jam 6 sore baru nyampai. Jam 7 malam, saudara Charis sudah sampai Jakarta. Bagaimana mungkin nyampe Sheraton jam 6 sore. Kami menolak tegas dalil Penuntut Umum yang menyatakan, Harto Wijoyo tidak hadir. Hanya berpatok keterangan Adin dari Bank BRI," katanya.

    Menurut Ben D Hadjon SH, saksi menyatakan kira-kira jam  3 , semuanya bersifat perkiraan tidak ada yang menyatakan pasti jam 3. Sehingga di situ, ditarik (kesimpulan) berarti nyampai Surabaya jam 6 baru sampai. Jadi, Harto Wijoyo tidak hadir, karena lumpur Lapindo. Itu hanyalah asumsi saja. Itu bukan fakta. Saksi Yohanes M menyaksikan dan Charis Junaedi datang sama Harto hingga berangkat ke Jakarta.

    "Pernyataan Adin hanya perkirakan semata kok. JPU bilang  blangko kosong baru ada pada 22 Juni 2017. Bagaimana mungkin sudah berubah menjadi akte pada 20 Juni 2017. Ini imposible dan tidak rational,"cetusnya.

    Dijelaskan Ben D Hadjon SH , marilah menegakkan hukum secara obyek dan proporsional,  dan jangan mencari cari kesalahan. "Kita bertarung secara profesional, jangan hanya asumsi semata. Harapan kami, putusan sesuai fakta persidangan," harapnya.

    Masih kata dia , duplik akan dibaca secara menyeluruh dan punya kesempatan maksimal. (ded)






     

    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Dalam Dupliknya, Saksi-Saksi Sebut Harto Wijoyo Tanda Tangan dan Hadir di Sheraton Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas