728x90 AdSpace

  • Latest News

    Sabtu, 04 September 2021

    Keterangan Dua Saksi Berbelit-Belit, Terkesan Ada Yang Sengaja Ditutup-Tutupi

     



    SURABAYA (mediasurabayarek.com) -  Sidang lanjutan Djerman Prasetyawan, yang tersandung dugaan perkara pemalsuan surat tanah, dengan agenda pemeriksan saksi Indriati dan Hauw Setyo Mulyono yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, yang digelar di ruang Tirta 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (2/9/2021).

    Dalam keterangannya, Indriati menyatakan, pihaknya pernah mengajukan gugatan perdata terhadap Remu di PN Surabaya dan berakhir dengan perdamaian. 

    "Dalam perdamaian itu, segera menyerahkan tanahnya kepada saya. Nah setelah itu,  tanah dijual ke Djerman. Semuanya melalui Djerman," ucapnya.

    Tanah dijual kepada Djerman seharga Rp 37,5 miliar dan hanya dibayar oleh Djerman Rp 500 juta. Sisanya Rp 37 miliar belum dibayarkan.

    Menurut Indriati, sekitar Desember 2015 membeli tanah Rp 1 milair dari Remu. Dan selanjutnya, Juni dijual Rp 37,5 miliar pada Djerman.

    Giliran JPU Darwis bertanya pada saksi Indriati, apakah mendapatkan akta dari notaris ?

    "Ya, dapat akta dari notaris Pak," ujar Indriati.

    Lantas, Indriati menunjukkan akta notaris di depan majelis hakim yang menyidangkan perkara ini. "Dua akta itu akan saya sita. Kalau palsu, kedua saksi akan kena (jadi tersangka-red)," kata JPU Darwis.

    Saksi Indriati ditanya oleh majelis hakim selalu berkata tidak tahu dan lupa. "Karena bapak (Hauw Setyo-red) sakit, saya nggak ngurus lagi. Saya repot ngurusi bapak," kilah Indriati.

    Giliran Penasehat Hukum (PH) terdakwa Djerman, Bagus Sudarmono SH bertanya pada saksi Indriati mengenai  siapa yang menawarkan tanah dan  apakah mengetahui adanya pemetaan BPN masuk wilayah Manukan Kulon ?

    "Saya nggak tahu Pak," jawab  Indriati singkat.

    Sekali lagi PH Bagus SH bertanya pada Indriati, apakah pernah melihat tanah yang menjadi perkara. 

    Lagi-lagi, Indriati menjawab tidak pernah melihat tanah ke lokasinya. Juga, luas tanahnya tidak tahu pasti. Juga dikatakan, bahwa Indriati juga tidak pernah melihat pajak atau SPT-nya.

    Ketika Hakim Ketua Musyari  Effendi Sh Mhum  bertanya pada Indriati  kenapa sisa pembayaran yang kurang Rp 37 miliar tidak ditagih ke Djerman.

    "Bapak lagi sakit, saya nggak ngurusi itu," jawab Indriati.

    Atas keterangan saksi Indriati, Hakim Ketua Effendi minta tanggapan terdakwa Djerman apakah merasa keberatan atau tidak.

    Djerman menjawab, dirinya keberatan kalai dikatakan yang membuat gugatan perdata pada Remu. Awal yang menawarkan tanah adalah Gatot Setyo.

    Sementara itu, Hauw Seto mengatakan, dirinya sudah kenal lama dengan Djerman. Untuk tanah Manukan yang tawarkan adalah Djerman. 

    "Ada tanah dijual murah atas nama H Ichsan/Marwiyah petok D No. 197 dan surat pengoperan. Saya nggak tahu luas tanahnya 30 ribu m2," kata Setyo.

    Namun demikian, Setyo pernah ke lokasi Margomulyo, Kecamatan Tandes, Surabaya. Obyeknya di Manukan Kulon ditawarkan Rp 1 miliar.

    "Saya bayar Rp 150 juta ke Djerman dan menyicil. Hingga total pembayaran sekitar Rp 1 miliar sudah bayar ke Djerman. Fisik tanah tidak saya dikuasai," cetusnya.

    Lalu, mengajukan  gugatan perdata  pada Remu dan dibantu Djerman. Gugatan diajukan, karena Remu tidakmau menyerahkan tanahnya. Ide gugatan dari saksi Setyo sendiri.

    Lantas, terjadi perdamaian  dan tanah itu milik Indriati dan berhak atas tanah di Manukan Wetan pada 16 Mei. Dan selanjutnya pada Juni 2017 dilakukan eksekusi PN SUrabaya. Karena Agus yang menguasai tanah tersebut, tidak mau keluar. Dan lurah tidak mau tanda tangan.

    Riil beli tanah Rp 1 miliar, seolah olah beli dari Remu Rp 30 miliar. Djerman menguasai fisik tanah. Perjanjiannya Rp 1 juta per m 2. 

    Karena Setyo sakit, tidak pernah mengetahui bahwa Djerman mengurus sertifikat ke BPN. 

    "Saya terima uang dari Djerman Rp 500 juta dan dikasihkan lagi ke Djerman Rp 100 juta untuk membeli tanah di Dupak," ungkapnya.

    Ketika PH Bagus SH bertanya pada Setyo mengenai siapa yang menawarkan tanah itu pada Setyo.

    "Yang menawarkan tanah adalah Djerman dan Syamsul Hadi. Sebelum beli tanah, tinjau lokasi dulu. Namun, tidak pernah melihat dokumen dan administrasi di Kelurahan. Yang mengajukan surat pajak adalah Djerman," tukas Setyo.

    Setelah mendengarkan keterangan dua saksi dirasakan sudah cukup, Hakim Ketua Musyari Effendi SH Mhum menegaskan, sidang akan dilanjutkan pada Selasa (7/9/2021) mendatang, dengan agenda pemeriksaan satu saksi lagi.

    Sehabis sidang, Bagus Sudarmono SH menerangkan, bahwa saksi menyatakan memang secara administratif petok D No 197 dulu masuk wilayah Buntaran dan kini masuk Manukan Wetan.

    Akan tetapi lokasi obyek tanah yang ada saat ini, ternyata ada di Manukan Kulon. Itu sebagaimana keterangan saksi Hauw Setyo. Jadi, ada ketidaksinkronan antara Manukan Wetan, namun lokasinya di Manukan Kulon.

    "Kita akan ajukan untuk peninjauan lokasi nantinya. Karena mana yang benar,  apakah Manukan Wetan atau Manukan Kulon. Kalau Letter C nya, kelurahan Buntaran. Lalu disatukan menjadi Manukan Wetan.  Kalau menurut saksi tadi , lokasi di Manukan Kulon," kata PH Bagus SH.

    Diungkapkannya, lokasi yang sebenarnya belum diketahui hingga saat ini. Menurut kliennya (Djerman) sudah ada rapat dan lokasinya ada di Manukan Kulon. 

    Untuk keterangan saksi ada yang keterangan fakta dan ada yang sengaja ditutup-tutupi oleh Hauw Setyo. (ded)






    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Keterangan Dua Saksi Berbelit-Belit, Terkesan Ada Yang Sengaja Ditutup-Tutupi Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas