728x90 AdSpace

  • Latest News

    Selasa, 06 April 2021

    Dua Ahli Pidana Sebut Kasus Christian Halim Adalah Perdata, Tidak Bisa Ditarik Pidana

     



    SURABAYA (mediasurabayarek.com) –  Kali ini sidang lanjutan Christian Halim, yang tersandung perkara dugaan penipuan tambang nikel , dengan agenda pemeriksaan tiga saksi  ahli yang diajukan Penasehat Hukum (PH) terdakwa, yakni Alvin Liem SH dan Jaka Maulana SH yang digelar di ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (5/4/2021).

    Ketiga saksi itu adalah  DR Sholehuddin SH MH (ahli pidana)--dosen Ubhara Surabaya , DR Dwiseno Wijanarko (ahli pidana)--dosen Ubhara Jakarta, dan  Dr Puji Karyanto ( ahli bahasa)--dosen Ilmu Budaya Unair Surabaya.

    Dalam keterangannya  saksi ahli DR Sholehuddin SH MH menerangkan,  terkait perbedaan istilah wanprestasi dengan tindak pidana penipuan yang ditanyakan oleh PH Alvin Liem dan Jaka Maulana SH.

    Menurut ahli pidana ,  penipuan adalah rangkaian kebohongan yang sengaja dilakukan pelaku untuk mempengaruhi korban. Apabila korban sejak awal tahu, pasti tidak akan tergerak untuk melakukan perjanjian.

    Sedangkan wanprestasi merupakan implikasi dari tidak dilaksanakannya kewajiban dalam suatu perjanjian, kesepatan atau perikatan tertentu. 

    Adanya hak dan kewajiban yang timbul karena adanya perikatan dalam perjanjian yang sah menurut Pasal 1320 KUH Perdata. Kemudian berkenaan dengan konsekuensi atas wanprestasi sebagaimana diatur dalam pasal 1243 KUHPerdata dinyatakan adanya somasi, kemudian penggantian biaya, kerugian, dan bunga karena tidak terpenuhinya suatu perikatan. 

    “Mereka yang berselisih ini terutama yang memberi pekerjaan bisa mengajukan gugatan perdata,” ucap ahli pidana DR Sholehuddin SH MH.

    Kembali PH Jaka Maulana bertanya, apakah seseorang yang melakukan kesepakatan mengerjakan proyek, namun dalam perjalanannya dinilai tak memuaskan karena tak sesuai janji kemudian diputus sepihak. Hal ini  masuk kategori wanprestasi atau penipuan ? 

    Ahli pidana DR Sholehuddin SH MH menjawab, hukum pidana itu untuk mencari kebenaran materiil berarti yang dicari perbuatan yang sesungguhnya terjadi. Akan tetapi,  sebelum masuk ke ranah pidana harus dicari dulu hubungan keperdataan, artinya apakah sebelumnya ada hubungan keperdataan atau tidak, kalau ada maka harus diselesaikan asas keperdataan.

    "Jadi  tidak bisa meloncat langsung pidana karena hukum pidana ada norma-norma tersendiri. Dalam hal ini, pidana adalah obat terakhir,” katanya.

    Atas dasar itulah,  DR Sholehuddin SH mengatakan, bahwa kasus yang menimpa terdakwa Christian Halim ini harus diselesaikan unsur keperdataannya dulu.

    Karena sejak awal sudah ada perjanjian atau kesekapatan antara dua pihak, maka kalau terjadi perselisihan usaha maka harus ditempuh jalur perdata terlebih dulu.

    Pernyataan senada diungkapkan oleh  ahli pidana,  DR Dwiseno Wijanarko yang menegaskan, kalau kasus pidana yang ada unsur  keperdataannya, jangan  ditarik-tarik. 

    “Pendapat saya sejak  awal kasus ini perdata, maka harus perdata jalan persidangannya, tidak bisa ditarik pidana,” cetus Dwiseno.

    Giliran  ahli bahasa Puji Karyanto mengungkapkan,  masalah bahasa target adalah pengertiannya estimasi rasional yang harus dikejar berdasarkan perhitungan strategis sesuai dengan tahapan-tahapan yang ditetapkan.

    Atas keterangan ahli bahasa ini, baik JPU Novan Arianto SH dan Sabethania tidak mengomentari penjelasan saksi ahli bahasa, karena kasus yang disidangkan adalah kasus pidana.

    Ketika terdakwa Christian Halim diminta hakim mengomentari keterangan saksi ahli, Christian Halim mengatakan keterangan saksi ahli itu benar semuanya.

    Sehabis sidang, PH Alvin Liem dan Jaka Maulana SH  mengatakan, keterangan saksi ahli sudah pas dengan harapannya. Bahwa  sejak awal kasus yang menjerat kliennya ini murni perdata. 

    “Sebenarnya, perkara ini kan sengketa kesepakatan atau perjanjian saja,”  ungkapnya.  (ded)

    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Dua Ahli Pidana Sebut Kasus Christian Halim Adalah Perdata, Tidak Bisa Ditarik Pidana Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas