728x90 AdSpace

  • Latest News

    Senin, 22 Februari 2021

    Sidang Dugaan Pemalsuan Surat Disidangkan

     



    SURABAYA (mediasurabayarek.com) –     Sidang perdana terdakwa Buchari , yang tersandung dugaan perkara pemalsuan surat, disidangkan di ruang Sari 2 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (16/2/2021).

    Dalam surat dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nurhayati SH, bahwa  terdakwa Buchari bersama-sama dengan Soen Hermawan  (disidangkan terpisah) sekitar Pebruari sampai  September 2019  bertempat di PT Freight Liner Indonesia ( PT. FLI) Jln. Mayjen Sungkono No. 204 Surabaya dan di PT OTS Logistik Indonesia Jln. Mayjen Sungkono No. 204 Surabaya.

    Mereka diduga secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri sebagai orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan danyang turut serta melakukan, membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsukan.

    Menurut JPU, awalnya sekitar akhir tahun 2016 saksi Budi Setiyawan dari PT Freight Liner Indonesia (FLI) bertemu dengan terdakwa Buchari (selaku pemilik PT Surya Sarana Trnas Buana).

    Pada  saat itu berbincang terkait pekerjaan dan saling menawarkan diri untuk melakukan kerjasama antara PT Surya Sarana Trans Buana (PT.SSTB) dangan PT FLI.

    Namun saat itu belum disepakati kerjasama dikarenakan adanya ketidakcocokan harga traking.

    Lalu  terdakwa Buchari menawarkan usaha tracking yang dikenalnya yaitu PT Biz Trnas milik Soen Hermawan (disidangkan terpisah) karena saksi Budi  S, yang kemudian didapati kesepakatan harga Traking, sehingga muatan milik PT. SSTB tersebut akan dikirimkan melalui PT. FLI dengan menggunakan kendaraan milik PT. Biz Trans Surabaya.

    Dan, selanjutnya pada April 2019, terdakwa Buchari bersedia membayarkan kekurangan pembayaran terhadap pengiriman dari Denpasar ke Tangerang dengan memberikan 9 (sembilan) Bilyet Giro jika PT. FLI mau mengambil proyek pengiriman barang berupa tiang pancang dari porong, Krian dan Gresik dengan tujuan ke Jakarta, Denpasar dan Mandalika (NTB).

    Kala itu,  terdakwa Buchari mengatakan mendapat proyek dari PT. Pos Indonesia terkait pengiriman tiang pancang ketempat tersebut. Lantas,  pengiriman tiang pancang tersebut dilakukan oleh Soen Hermawan dari PT Biz Trans Indonesia atas rekomendasi dari terdakwa Buchari.

    Atas pekerjaan tersebut PT FLI telah melakukan pembayaran Jasa pengangkutan yang dilakukan oleh Soen Hermawan berdasarkan invoice jasa jasa pengiriman PT. Biz Trans Indonesia yang dibuat dan ditandatangani sendiri oleh Soen Hermawan, tanpa sepengetahuan Direktur PT Biz Trans Indonesia.


    Menurut Soen Hermawan bahwa dia tidak pernah mengangkut tiang pancang dari porong, krian dan Gresik dengan tujuan ke Jakarta, Denpasar dan Mandalika (NTB).

    Karena proyek pengiriman tiang pancang tersebut sebenarnya tidak ada dan Soen Hermawan hanya membuat surat jalan dan invoice tersebut seolah-olah Soen Hermawan telah melakukan pekerjaan pengangkutan tersebut.

    Dikarenakan sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan terdakwa Buchori untuk mencari uang atau dana yang akan digunakan untuk membayar ke customer lainnya.

    "Sehingga Soen Hermawan membuat surat jalan dan invoice palsu, kemudian surat jalan dan invoice tersebut digunakan untuk menagih biaya angkut ke PT FLI. Nilai kerugian sebesar Rp. 4.701.105.000,- (empat milyar tujuh ratus juta seratus lima ribu rupiah) merupakan total tagihan atas invoice yang harus dibayarkan oleh terdakwa Buchori kepada PT FLI , setelah PT. FLI membayar jasa angkut kepada Soen  Hermawan," ucap JPU Nurhayati SH.

    Dan, selanjutnya pada  Mei 2019 terdakwa Buchori juga memberikan pekerjaan kepada PT OTS logistic Indonesia untuk melakukan pengangkutan tiang pancang dari Porong dengan tujuan Tangerang dan pengangkuta besi dari Jakarta dengan tujuan Mojosari, Mojokerto dengan menunjuk terdakwa Soen Hermawan sebagai pelaksana pengangkutan.

    "Dan atas pekerjaan tersebut terdakwa Soen Hermawan telah telah melakukan penagihan  dan telah dilakukan pembayaran oleh PT OTS Logistik Indonesia berdasarkan invoice  dan surat jalan yang dipalsukan oleh terdakwa Soen Hermawan dengan total pembayaran 4.086.867.510," kata JPU Nurhayati SH,

    Perbuatan terdakwa  sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 263 ayat (1) KUH Pidana jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana jo pasal 65 ayat (1) KUH Pidana. 

    Setelah mendengarkan dakwaan Jaksa, Hakim Ketua Erintuah Damanik SH MHum mengatakan, sidang akan dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi dari Jaksa pada Selasa (23/2/2021).

    "Baiklah, sidang dilanjutkan pada Selasa (23/2) mendatang," tuturnya seraya mengetukkan palunya sebagai pertanda sidang ditutup dan selesai.

    Sehabis sidang, Penasehat Hukum (PH) Batara C Gumulya SH menyatakan, ini adalah perkara lanjutan dan   Buchari yang mengenalkan investornya ke Soen Hermawan yang diduga  melakukan penggelapan. 

    (Dalam perkara ini-red), Buchari turut serta dan pelaku penggelapan adalah Soen Hermawan. (ded)



     


    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Sidang Dugaan Pemalsuan Surat Disidangkan Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas