728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 15 Juli 2020

    Terdakwa Nanang Rofii dan Candra Layak Dibebaskan


                         Dr. Solehoddin SH MH 


        Suasana sidang


    SIDOARJO (mediasurabayarek.com) -  Agenda  sidang pemeriksaan terdakwa  Nanang Rofii dan  Candra, yang tersandung dugaan perkara korupsi pengalihan lahan milik Pemerintah Kota (pemkot)  Malang, digelar di ruang Candra  Pengadilan Negeri Tipikor Surabaya,  Rabu (15/7/2020).


    Dalam keterangannya, terdakwa Nanang Rofii menyatakan, pihaknya mendatangi lokasi yang jelas alamatnya untuk melakukan pengukuran sesuai surat tugasnya.

    "Ketika pengukuran tanah ada Leonardo,  saksi saksi dan lainnya. Pengukuran dilakukan tiga kali. Luas tanah yang diukur 350 M2 di Jl Bridjend Slamet Riyadi , Malang ," ujar Nanang.

    Setelah pengukuran itu, lanjut dia, selanjutnya delapan bulan  kemudian selesai pada Mei 2016. 

    "Mengenai pemberian transport, uang makan ditanggung pemohon.  Kita tidak pernah minta," ucap Nanang.

    Sementara itu , terdakwa Candra mengatakan, dirinya tidak pernah didatangi Leonardo untuk melakukan kerjasama. Leonardo hanya menawarkan  tanah pada Candra dan mau membeli tanah itu pada Juli 2016 lalu.


    Leonardo dan Candara mendatangi lokasi dan melihat kondisi tanahnya. Candra membeli tanah seluas 77 m2 seharga Rp 450 juta. "Saya bisa buktikan pembayarannya, karena ada record-nya.  Tanah itu dibangun ruko tiga lantai seharga Rp 1,7 miliar pada pembeli. Uang itu sudah dikembalikan pada pembelinya," katanya.


    Untuk pembayaran uang Rp 450 juta itu dibayarkan kepada Leonardo, karena Leonardo menunjukkan pada Candra adanya surat kuasa menjual tanah yang dimilikinya. Tetapi, surat kuasa itu ternyata palsu.

    Ketika giliran Ketua Tim Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Dr. Solehoddin SH MH bertanya kepada  Nanang tentang siapa yang memberikan surat tugas pengukuran tanah itu ?

    "Surat tugas itu  dari Kasie dan melakukan pengukuran tanah dengan membawa berkas berkas ke lapangan sesuai alamatnya. Surat tugas dan dokumen diberikan secara bersamaan. Untuk waktu pengukuran, tergantung jadwal yang diberikan. Dalam sehari bisa melakukan pengukuran sampai 6 (enam) bidang tanah. Dalam sebulan, melayani 400 pemohon," cetus Nanang.

    Dijelaskannya, bahwa pengukuran yang dilakukannya itu belum final. Sebab, setelah pengukuran, hasilnya akan dikoreksi dan melewati 6 (enam) jenjang. Yakni , di antaranya dikoreksi oleh koordinator, pemetaan, panitia dan lainnya.

    "Bukan saya yang menentukan jadi sertifikat atau tidak nantinya," beber Nanang.

    Masih kata dia, setelah pengumuman ternyata tidak ada sanggahan dari Kades.  

    Kini, giliran PH Dr. Solehoddin SH MH  bertanya kepada Candra mengenai apakah merasa tertipu dengan ulah Leonardo yang menjual tanah yang bukan miliknya sendiri ?

    "Saya merasa tertipu membeli tanah dari Leonardo, tetapi bukan miliknya," tukas Candra. 

    Sementara itu, Hakim Anggota Lufsiana SH MHum menegaskan, bahwa kelima ahli waris itu harus dijadikan tersangka dalam perkara ini.   "Kalau nggak, dikira main main. Jual-beli yang dilakukan Candra itu sah. Dia tidak tahu apa-apa. Terdakwa ini bisa bebas," tandasnya.

    Setelah pemeriksaan saksi saksi dirasakan cukup,  Hakim Ketua Cokorda Gede Arthana menegaskan, bahwa sidang tuntutan akan dilakukan dua minggu lagi, atau hari Rabu (29/7/2020) mendatang.

    "Sidang tuntutan akan dilakukan dua pekan lagi. Jaksa siapkan tuntutan," pintanya seraya mengetukkan palunya sebagai pertanda sidang selesai.

    Sehabis sidang,  Ketua Tim PH  terdakwa, Dr. Solehoddin SH MH  mengungkapkan, pemeriksaan terdakwa sudah jelas dan terang-benderang, bahwa Nanang sebagai petugas ukur sudah menjalankan tupoksinya dengan benar dan sesuai perintah atasan.

    Sesuai pasal  51 KUHP, orang yang menjalankan perintah atasan itu, tidak bisa dipidanakan. Hal itu clearance semuanya.  Seharusnya, atasannya- lah yang bertanggungjawab atas perbuatan tersebut.

    Kedua adalah terkait dengan Candara , sudah jelas bahwa dia sudah berhati hati sekali dalam membeli tanah dan sudah checking dua kali pada dua notaris berbeda.

    "Candra bilang tadi , clearance Rp 450 juta dibayarkan setelah  terbitnya SHM 1603. Jadi kalau dipaksakan, kalau bayar sebelumnya itu tidak benar dan tidak mungkin. Dia merasa tertipu, karena surat kuasa dan tanda tangan palsu. Dia dijebak dan Candra adalah orang yang dirugikan," beber Dr. Solehoddin SH MH.

    Maka dengan kasus ini, kata  Dr. Solehoddin SH, sudah seharusnya kedua terdakwa itu  harus dibebaskan. Apalagi, majelis hakim menerangkan, jangan sampai menghukum orang yang tidak bersalah. 

    Lebih baik menghukum 1000 orang bersalah , daripada menghukum satu orang yang  tidak bersalah. (ded) 

    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Terdakwa Nanang Rofii dan Candra Layak Dibebaskan Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas