728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 15 Juli 2020

    Saiful illah : "Saya Tidak Pernah Minta-Minta Uang, Saya Difitnah ! "


        Syamsul Huda SH



        Sidang Syaiful Ilah 


    SIDOARJO (mediasurabayarek.com) - Kali ini sidang lanjutan kasus suap Bupati Sidoarjo non-aktif Saiful illah, dengan agenda pemeriksaan 3 (tiga)  saksi yang dihadikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK berlangsung menarik dan seru, yang digelar di ruang Candra Pengadilan Tipikor, Juanda, Sidoarjo, Rabu (15/7/2020).

    Ketiga saksi itu adalah Kabag ULP (Unit Layanan Pengadaan), Sanadjihitu Sangaji, Kabid Bina Marga Dinas PU  BMSDA Judi Tetrahastoto, dan Teguh Hadi Winarko (ajudan Bupati) yang memberikan keterangan di muka persidangan.

    Dalam keterangannya, Sanadjihitu Sangaji menyatakan, paket tender lelang proyek melalui dirinya dengan nilai di atas Rp 100 juta. Untuk koordinasi pekerjaan dengan Pojka dan PPK.

    "Tidak terkait dengan Sekda dan tidak pernah ketemu dengan Dinas PU dan Dinas lainnya, terkait proyek," ujarnya.

    Nah, ketika JPU KPK Arif Suhermanto bertanya kepada Sangaji, apakah pernah ketemu Bupati di samping Pendopo ?

    Tampak Sangaji gerogi menjawab pertanyaan dari JPU KPK ini. Sampai-sampai Hakim Ketua Cokorda Gede Arthana bertanya apakah saksi Sangaji ada tekanan atau paksaan.

    "Saya nggak gerogi pak Hakim dan tidak ada paksaan," ucap Sangaji singkat.

    Menurut Sangaji, dia ketemu Saiful Ilah di rumah dinasnya pada malam hari, melaporkan tentang kemajuan progres proyek yang tercapai di Pemkab Sidoarjo.

    Diakuinya, pernah bertemu Ibu Gofur, pengusaha kontraktor fisik di kantornya pada tahun 2019.  Gofur menggarap 4 (empat) proyek, di antaranya adalah Pasar Porong, proyek Candi Prasung dan lainnya.

    "Saya tidak tahu kedekatan Gofur dan Saiful Ilah. Lagian, tidak pernah membicarakan proyek dengan Saiful llah. Saya juga tidak pernah memerintahkan Gofur ketemu Saiful Ilah," ujar Sangaji. 

    Ketika JPU bertanya apakah Sangaji pernah menerima uang dari Gofur ?

    Sangaji menjawab, bahwa dia pernah menerima uang dari Gofur, namun tidak terkait dengan proyek. Dia minta bantuan bencana Ambon kepada Gofur dan akan disiapkan uangnya.

    "Saya minta bantuan Gofur untuk bencana Ambon sebesar Rp 100 juta. Tetapi, disiapkan Rp 300 juta. Untuk uang Rp 100 juta itu, saya terima dan Rp 200 juta untuk Bupati," katanya.

    Selain itu, Sangaji pernah dititipi uang oleh Gofur sebesar Rp 100 juta untuk Pojka. "Saya kasihkan Rp 10 juta-an dan Rp 8 juta-an. Ada sisa uang sekitar Rp 110 juta dan saya simpan. Uang tersebut, akan saya kembalikan pada Gofur," cetusnya.

    Sementara itu, Teguh Hadi Winarko (ajudan Bupati ) mengatakan, sekitar Oktober 2019 lalu, pernah menerima kedatangan Sangaji di rumah dinas (rumdis) Bupati pada malam hari.

    Waktu, Sangaji bertemu dengan Saiful Ilah sambil membawa tas hitam yang didalamnya ada bungkusan berisikan uang tunai.  Tetapi, Teguh Hadi tidak melihat Sangaji membawa tas dan bungkusan uang tersebut.

    Giliran  Ketua Tim Penasehat Hukum (PH) terdakwa Syaiful Ilah, Syamsul Huda SH bertanya apakah ada intervensi Bupati kepada Sangaji dan dijawab tidak pernah melakukan intervensi.


    "Saya tidak pernah diintervensi oleh Bupati," ungkap Sangaji.

    Ketika Teguh Hadi ditanya oleh PH Syamsul Huda mengenai adanya kewajiban untuk setor uang terkait proyek kepada Saiful Ilah. 

    "Saya tidak tahu akan hal itu, Pak," jawab Teguh singkat.

    Sedangkan, saksi Judi menerangkan, pembangunan jalan Candi - Prasung dengan nilai proyek Rp  21 miliar dimenangkan oleh ibnu Gofur.  Pada 30 Juli 2019, Saiful Ilah telepon Judi dan bertanya bahwa Gofur menang, kok disanggah.

    Dalam kesempatan itu,  Judi mengakui, bahwa dua kali dikasih uang oleh Gofur. Ketika bertemu di Mlirit, Mojokerto dikasih Rp 200 juta. Setiba di rumah, dibuka dan diketahui dikasih uang sebesar itu.

    Dan, setelah itu, Gofur memberikan uang lagi kepada Judi sebesar Rp 100 juta. Selain itu, Totok Sumedi memberikan uang pada Judi sebesar Rp 40 juta, Gagah kasih uang Rp  100 juta pada tahun 2010.

    "Nggak ada perintah dari Saiful Ilah untuk memenangkan Gofur pada tender proyek," tukasnya.

    Masih kata Judi, ada permintaan  Saiful Ilah sebesar Rp 500 juta pada Sunarti, Kepala Dinas PU.  Kabarnya, Saiful Ilah lagi membutuhkan uang yang banyak, sebagaimana penuturan Sunarti.

    Lantas Dinas PU berhutang  atau pinjam pada Koperasi Dinas PU sebesar Rp 200 juta pada Juli 2019. Nah, pinjaman itu ditutup Gofur yang memberikan uang  sebesar Rp 200 juta. Selama ini, Judi hanya koordinasi dengan Pokja saja.

    PH Syamsul Huda SH bertanya pada Judi, apakah tahu bahwa Sunarti punya kebutuhan uang yang besar untuk suaminya yang terkena kanker dan seminggu dua kali harus cuci darah.  Namun saksi Judi, tidak mengetahui akan hal itu dan Judi mendapatkan uang dari Gofur sebesar Rp 300 juta. 

    Setelah pemeriksaan ketiga saksi dianggap cukup, Hakim Ketua Cokorda memberikan kesempatan pada terdakwa Saiful Ilah untuk memberikan tanggapannya atas keterangan saksi saksi tersebut.

    "Saya tidak pernah minta minta uang pada Dinas, UPTD  maupun pengusaha. Apalagi minta minta pada Sunarti Rp 500 juta. Itu fitnah ! Suami Sunarti sakit kanker dan cuci darah dua kali seminggu (butuh dana besar untuk berobat-red) ," tandas Saiful Ilah. 

    Sehabis sidang, PH Syamsul Huda SH mengungkapkan, mengenai permintaan uang Rp 500 juta yang diminta Saiful Ilah seperti dikatakan Sunarti itu, ngawur.


    "Kita lihat latar belakang Sunarti yang butuh duit  banyak, karena suaminya sakit dan butuh kemoterapi, yang butuh duit banyak dan tidak kecil itu.  Faktanya, Bupati Saiful Ilah tidak pernah minta uang. Kita hadirkan saksi saksi lain, level Kadis , apakah bupati  kumpulkan kadis dan minta uang. Itu kan versinya Sunari begitu," katanya.


    Diungkapkan PH Syamsul Huda SH, Judi tanpa tanya bupati atau konfirmasi sama yang lain, hanya  mengiyakan saja. Kemudian hutang ke Koperasi Dinas PU . 

    "Logikanya begini ya, sampai terakhir Sunarti mengejar-ngejar Judi dan kawan kawan, mana sisanya. Padahal Judi dan kawan kawan sudah terima dari kontraktor, ngapain hutang?," bebernya. 

    Terakhir, ketika  Sunarti terima uang Rp 225 juta, dengan gagahnya ngomong akan dikembalikan pada Gofur, sampai terkena OTT KPK. Itukan fakta yang saling bertabrakan. 

    Judi jujur dia bilang, terima uang dari Gofur terima Rp 300 juta. Sekarang logis atau nggak, Sangaji terima Rp 300 juta untuk pribadinya. Uang Rp 100 juta untuk gempa Ambon dan Rp 200 juta untuk bupati. Begitu ada masalah ini , Sangaji lepeh (mengingkari -red) . Gofur tidak tahu menahu urusannya dengan Bupati. (ded)

















     (ded)

    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Saiful illah : "Saya Tidak Pernah Minta-Minta Uang, Saya Difitnah ! " Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas