728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 22 Juli 2020

    PH Christie Jacobus SH : "Dalam Perkara ini, Master-Mindnya Adalah Fariz, Bukan Dodik"

        Christie Jacobus SH






    SURABAYA (mediasurabayarek.com) - Agenda pemeriksaan 4 (empat)  terdakwa  ( Anas Ma’ruf-- mantan Kepala Disperindag Jember--,  Edi Shandy Abdur Rahman SE-- pelaksana pekerjaan fisik Pasar Manggisan--, Irawan Sugeng Widodo alias Dodik dan M Fariz Nurhidayat --selaku pelaksana pekerjaan perencanaan dan pengawasan Pasar Manggisan), yang tersandung  perkara  dugaan korupsi pembangunan Pasar Manggisan di Kecamatan Tanggul ,  Jember , digelar di ruang Candra Pengadilan Tipikor,  Juanda, Selasa (21/7/2020).

    Giliran pertama diperiksa adalah Anas Ma'ruf, mantan Kepala Disperindag Jember menyatakan, bahwa pembangunan Pasar Manggisan pada tahun anggaran 2019 sebsar Rp 8 miliar untuk 5 (lima) lokasi pasar yang tersebar di Jember.

    Namun demikian, atas perintah Bupati Jember, Faida , yang semula 5 pasar menjadi 14 pasar.  "Kita dipanggil Bupati dan disiapkan 12 nama pasar di Jember. Eko dan Angga  merubah proyek menjadi Rp 100 juta-an. Untuk perencanaan dilakukan CV Menara Cipta Graha (Dirutnya  Pujo Santoso)," ujarnya.

    Menurut Anas, waktu dipanggil Bupati itu  Irawan Sugeng Widodo alias Dodik diberikan data pasar. Fariz-- karyawan freelance Irawan memaparkan pasar di pendopo Pemkab Jember.

    "Mengenai siapa yang mengerjakan gambar proyek, saya tidak tahu.  Nggak pernah berhubungan dengan Dodik. Saya hanya berhubungan dengan Eko saja," ucapnya.

    Lantas Anas menyuruh Eko menyiapkan proses lelang proyek dan muncul pemenangnya, yakni PT Duta Putri (Dirutnya Agus Salim) . Pengawas  lapangan adalah Edi Shandy. Sedangkan konsultan pengawas adalah CV Multi Desain (milik Sikam).

    Penyebab keterlambatan penyelesaikan proyek, karena PT Duta Putri kesulitan keuangan atau pendanaan. Terbukti, kesulitan melakukan pengadaan bahan bahan materiil yang dibutuhkan proyek.

    "Untuk pencairan pengerjaan proyek Rp 1 miliar lebih atau 20 persen dari proyek yang dikerjakan pada 5 Desember 2019.  Dan selanjutnya, 31 Desember dicairkan untuk pengerjaan proyek 52 persen dan dicairkan Rp 4 miliar," kata Anas Ma'ruf.

    Menurutnya, pernah mengajukan adendum yang dilakukan oleh Edi Shandy dan disetujui pada Januari dan diteken oleh Agus Salim. Diberikan perpanjangan pengerjaan proyek salama 50 hari kerja atau sampai 19 Februari. Tetapi, proyek tetap belum selesai.

    "Sampai sekarang ini belum diputus kontraknya. Pekerjaan belum selesai, saya pindak pekerjaan pada bagian lain. Sanksi  black-list belum dibeikan pada penyedia atau pemenang lelang proyek. Karena belum diputus kontraknya," cetusnya.   

    Padahal mengacu pada Perpres No 54 Tahun 2010, maka penyedia jasa itu harus diputus kontraknya dan dikenakan sanksi black-list, karena melanggara peraturan hukum.


    Ketika hakim anggota, Lufsiana bertanya kepada Anas, apakah memiliki sertifikasi sebagai PPK. "Saya tidak punya sertifikat PPK, Pak Hakim," tegasnya.

    Mendengar jawaban ini, Hakim Anggota sontak kaget. "Saya baru tahu, PPK tidak punya sertifikasi dan haram  teken kontrak. Ini semuanya, diawali proses lelang dan tender yang salah," bebernya.

    Dijelaskan Anas Ma'ruf, sejak awal ditunjuk sebagai PPK sudah bilang pada Bupati bahwa tidak punya pengalaman. "Saya lalai dan bersalah, Pak Hakim," akunya.

    Atas perbuatan Anas ini, negara menderita kerugian  sebesar Rp 1,3 miliar. 
    Sementara itu, M Fariz Nurhidayat --selaku pelaksana pekerjaan perencanaan dan pengawasan Pasar Manggisan mengatakan, ketika di Pendopo Pemkab Jember dipaparkan sejumlah pasar di Jember, bukan hanya Pasar Mangguisan saja di depan Bupati.

    "Pemaparan hambar 3 D di depan Bupati dan belum ditunjuk penyedia jasanya. Waktu itu, saya diajak Pak Irawan Sugeng alias Dodik (Direktur PT  Maxi Engineering Solusi). Waktu itu, CV Menara belum ditunjuk menjadi konsultan perencana," ungkapnya.

    Diakui Fariz, bahwa dia pinjam nama perusahaan, yakni CV Menara Cipta (milik Pujo) atas perintah Irawan Sugeng. Perihal komitmen fee sebesar 8 persen diberikan kepada pemilik CV Menara itu, tidak membuat perjanjian seperti itu.

    Sedangkan untuk permohonan  pencairan, Fariz memerintahkan Rahmad Fathoni untuk meminta tanda tangan  Direktur perusahaan terkait.  Untuk pekerjaan dan pengawasan dilakukan Fariz.

    "Saya menyadari kesalahan ini , karena  tidak paham hukum. Saya setor uang atas anama CV Menara dan CV Multi Desain. Saya mendapatkan cek dan dicairkan, kemudian masuk rekening saya. Lantas, disetorkan ke Irawan Sugeng alias Dodik," tukasnya.

    Atas pekerjaan Fariz yang terbilang bagus ini, mendapatkan bonus dari Irawan Sugeng sebesar Rp 30 juta dan dipergunakan untuk biaya operasi caesar sang istri, Maya Dwi.

    Kini, giliran Irawan Sugeng Widodo alias Dodik yang diperiksa di muka persidangan. 

    Menurut Irawan Sugeng, pihaknya menyarankan Fariz kalau ada perusahaan yang berminat dan melakukan kontrak (digandeng saja-red). 

    "Saya tidak pernah ketemu dan berhubungan dengan perusahaan itu. Semuanya dilakukan Fariz, karyawan freelance. Namun demikian, untuk nilai kontrak konsultan perencana Pasar Manggisan  sebesar Rp 98 juta," tukasnya.

    Uang masuk ke Irawan dan digunakan untuk membayar karyawan, tenaga freelance, transportasi, survei dn lainnya. Uang yang ditransfer  Fariz kepada Irawan habus terpakai. 

    "Saya tidak pernah mengasih Anas dan pejabat lainnya di Pemkab Jember.  Yang bikin komitmen mereka, bukan saya. Sekitar  92 persen ke saya dan 8 persen untuk mereka," katanya.

    Sementara itu, Edi Shandy, yang pinjam nama PT Duta Putri, oleh milik Agus Salim, yang masih sepupunya. Edi sendiri tidak masuk dalam struktur perusahaan.


    "Saya yang bikin penawaran dan dikirimi dokumen oleh Deny di Jember. Akhirnya, PT Duta Putrik yang menjadi pemenang proyek Pasar Manggisan. Kita berada di peringkat nomor 2, peserta lelang proyek," ujarnya.

    Menurut Edi Shandy, mulanya Agus Salim mau mengerjakan proyek itu, namun timnya mengundurkan diri. Lantas, Agus Salim meminta Edi yang mengerjakan proyek tersebut.

    Ada Hadi Sakti dan Babus Salam yang memiliki uang dan mau membantu pengerjaan proyek. Namun, proyek hanya diselesaikan hanya 55 persen, tidak sampai rampung.

    "Hadi Sakti yang menerima uang pembayaran, karena menjadi kuasa dan uang disetor ke Babus Salam.  Saya nggak tahu kalau hal ini melanggar hukum. Saya tidak mengerti soal hukum," ucap Edi Shandy. 

    Gara-gara proyek tidak selesai dan saling menyalahkan satu dan lainnya. 


    Sehabis sidang, Penasehat Hukum (PH) Irawan Sugeng Widodo alias Dodik , yakni  Christie Jacobus SH mengatakan , mengenai adanya dana yang masuk dan tidak bisa diperinci oleh ahli BPKP Jatim ppada sidang sebelumnya.

    Namun, dalam persidangan tadi, diperinci oleh Dodik yang membuat gambar dan ada haknya di situ. 

    "Ada dana operasional sampai gambar  jadi. Kalau tidak jadi, proyek tidak  bisa berjalan. Anggaran yang diduga masuk ke Dodik, terpakai habis untuk operasional. Malahan, Dodik tekor," kata PH   Christie Jacobus SH  .

    Master-mind di sini, bukan Dodik, tetapi Fariz.  Adanya uang masuk, karena Dodik membuat gambar dan hasil karyanya.

     "Ketika saya tanyakan, apakah membuat stempel , kop atau apa. Nggak ada.  Pure hanya kertas kosong dikasih gambar. Dodik tawarkan , kalau ada yang mau (syukur-red). Kalau nggak mau, nggak apa- apa," tandasnya. (ded)





    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: PH Christie Jacobus SH : "Dalam Perkara ini, Master-Mindnya Adalah Fariz, Bukan Dodik" Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas