728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 17 Juli 2020

    Dalam Duplikya, PH Erles Mohon Hakim Membebaskan Para Terdakwa


                                        Erles Rareral  SH,MH



    SURABAYA (mediasurabayarek.com) -  Kini sidang 4 (empat) Bos PT  Zangrandi Prima (Willy Tanumulia, Grietje Tanumulia, Emmy Tanumulia, dan Fransiskus Martinus Soesetio), telah memasuki  agenda  duplik yang disampaikan oleh 
    Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Erles Rareral  SH,MH  di ruang Garuda 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (16/7/2020).


    Dalam sidang yang dipimpin oleh Hakim Ketua, Pujo Saksono SH MHum dan 
    Jaksa Penuntut Umum (JPU) Damang Anubowo SH , itu PH  Erles Rareral  SH,MH  hanya membacakan pokok-pokok dari duplik yang dibacakan, tidak sampai 10 menit sidang berlangsung.



    "Kami tidak membacakan duplik ini secara keseluruhan majelis hakim, tetapi hanya pokok pokoknya saja," ucap PH Erles Rareral  SH,MH.


    Mendengar hal ini, Hakim Ketua Pujo Saksono SH MHum mempersilahkan PH Erles membacakan dupliknya di depan persidangan.


    "Silahkan, PH terdakwa membacakan dupliknya," ujar Hakim Pujo Saksono SH MHum.

    Lantas, Erles SH membacakan dupliknya secara singkat dan hanya poin poin penting saja.  Intinya, dalam duplik, bahwa perkara yang dialami oleh  4 (empat) Bos PT  Zangrandi Prima (Willy Tanumulia, Grietje Tanumulia, Emmy Tanumulia, dan Fransiskus Martinus Soesetio), itu adalah perkara perdata. Bukannya perkara pidana. 


     Sehabis sidang, PH Erles Rareral  SH,MH menyatakan, inti sarinya tetap pertahankan pledoinya pada 2 Juli 2020 kemarin. 

    "Kita harapkan JPU Damang bisa mengerti duplik yang dibacakan tadi.  Posisi dianggap menggelapkan dan  memberikan keterangan palsu yang mana ? Diberikan hasil hasil, ini lho fatwa waris , ini lho penetapan PN, ini lho RUPS yang dihadiri pak Andi, sebagai notaris," kata Erles Rareral SH,

    Menurutnya,  notaris Andik bilang  quorum dan RUPS dilanjutkan. Dalam RUPS,  Andi berbicara  RUPS iu bukan jumlah orangnya. Mayoritas  pemegang atau  pemilik saham dan dinyatakan sah. Hal ini diamini Pak Frans dan RUPS dilanjutkan.

    "Namun demikian, katanya memberikan keterangan palsu. Yang mana palsu ? Kalau begitu, penetapan PN SUrabya palsu dong? Kita harus berjiwa besar, mengakui kekhilafan dan terlanjur. Kita serahkan majelis hakim. Lagian, para terdakwa sudah tua begitu, buat apa ? ," cetus Erles.


    Dipaparkan Erles SH, dalam  akte pendirian  tidak ada nama Evy Susantidevi Tanumulia. Selama puluhan tahun, Evy tidak mau tahu dan membantu PT Zangrandi Prima. Sejak kecil, Evy tinggal di tempat lain (Belanda).  


    "Katanya, menggelapkan saham. Ya, hadirkan lembar saham di pengadilan. Tidak diberikan deviden, kenapa nggak diambil di meja. Kami minta para terdakwa dibebaskan," pinta Erles Rareral SH MH. 


    Dalam keterangan  Erles SH sebelumnya, bahwa jauh sebelum PT  Zangrandi Prima berdiri,   Evy Susantidevi Tanumulia   adalah warga negara asing (WNA). 

    Bapaknya, yakni    Adi Tanumulia   meninggal dunia dan sekian lamanya,  baru PT Zangrandi Prima didirikan. Evy Susantidevi Tanumulia  tidak mempunyai peranan apa-apa.

    "Legal standingnya,  kita lihat akte pendirian PT Zangrandi, Evy tidak punya nama di situ. Dia bukan pemegang saham perusahaan. Kalau pinjam nama dianggap penyelundupan  hukum dan salah. Selama sekian lamanya, tidak punya peran apapun, sebagai manajer atau apa-lah,"  kata PH Erles Rareral  SH,MH.

    Masih kata Erles, mengenai deviden itu bukan berada di klien (para terdakw-red). "Klien kami tidak pernah menggelapan saham. Untuk uang kasih sayang dari keluarga Rp 375 juta itu ada di kantor atau perusahaan. Bukannya ada di klien kami," ungkapnya.

    Bukti tidak seriusnya JPU adalah tidak pernah menghadirkan beberapa lembar saham yang disita. Seharusnya, wajib dan ditaruh di persidangan yang disita itu.

    Ketika Frans menjabat sebagai Direktur PT Zangrandi Prima sudah berusaha memberikan uang kasih sayang.  "Jangan dipungkiri fakta persidangan.  Tidak ada alasan kuat menjerat pidana.  Kami sangat memohon  majelis hakim Yang Mulia untuk membebaskan dan melepaskan para terdakwa dari segala tuntutan dan dakwaan," tukas Erles Rareral SH.


    Dalam pledoinya pada sidang sebelumnya,  Erles mengungkapkan,  bahwa kasus ini adalah ranah perdata ,  bukan pidana. Karena  perkara ini adalah permasalan perusahaan yang menyangkut kepemilikan saham dan bukan merupakan ranah hukum pidana,  melainkan hukum perdata. (ded)

    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Dalam Duplikya, PH Erles Mohon Hakim Membebaskan Para Terdakwa Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas