728x90 AdSpace

  • Latest News

    Kamis, 21 Mei 2020

    Kinerja Angkutan Penyeberangan Menurun, Butuh Perhatian Pemerintah










    SURABAYA (mediasurabayarek.com) –  Di tengah-tengah wabah pandemi corona (covid-19),  operator transportasi laut  maupun angkutan penyeberangan kinerjanya menurun. 

    Kondisi ini juga dirasakan  oleh PT  Dharma Lautan Utama (DLU), namun tetap berupaya memastikan pelayanan logistik tetap berjalan. Ini mengingat , moda transportasi Laut sebagai infrastruktur tidak boleh berhenti, dalam kondisi apapun.

    Agar perusahaan pelayaran tetap bisa beroperasi, membutuhkan perhatian dari pemerintah dengan memberikan support, berupa pemberian subsidi  bahan bakar miyak (BBM) maupun relaksasi penunjang lainnya.


    “Angkutan laut atau penyeberangan sebagai infrastruktur  tidak boleh berhenti, harus tetap jalan, kalaupun ada gangguan yang dihilangkan adalah pengganggunya, bukan jalannya,”  ujar owner PT DLU yang juga Ketua Transportasi Jatim, Bambang Haryo di Surabaya, Rabu (20/5/2020).


    Hal senada disampaikan oleh Direktur Utama (Dirut) PT DLU, Erwin H Poedjono, yang menyatakan, bahwa kondisi pelayaran saat ini makin parah. Ini efek adanya pandemi virus corona, hingga mengalami penurunan  40 persen.

    Untuk menyelamatkan pelayaran, seharusnya ada relaksasi yang diberikan pemerintah melalui beberapa kebijakan yang bisa meringankan beban operasional angkutan penyeberangan.

    "Sebelum pandemi corona ini, beban operasional angkutan penyeberangan, pada penyaluran  BBM yang masih cenderung mematok harga selangit. Padahal, menyusul anjloknya harga minyak dunia, seharusnya diikuti suplai dan harga BBM yang disesuaikan," ucap Erwin H Poedjono.

    Seharusnya, kata Erwin, harga BBM juga turun. Tetapi, faktanya tidak demikian.  Karena, kebutuhan  pelayaran adalah bahan bakar industri, bukan bahan bakar konsumsi, khususnya solar.

    Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Sutomo mengungkapkan, masalah angkutan penyeberangan tidak hanya terbebani pada urusan bahan bakar saja.

    Akan tetapi,  penyesuaian tarif juga yang dinilai masih sangat rendah sebab tiga tahun ini tarif belum naik. Makanya, diharapkan pemerintah mau mengerti dengan kondisi industri pelayaran yang menjadi aset negara sekarang ini.

    “Setidaknya, bisa menjadi transfusi untuk membuat kami sedikit  bisa bernapas,” tukas Khoiri.


    Diharapkannya, adanya relaksasi di sektor industri juga menyasar perusahaan pelayaran, utamanya moda transportasi laut angkutan penyeberangan. Namun realisasinya, peruntukan relaksasi tersebut masih terfokus pada industri manufaktur dan pariwisata.

    “Padahal, industri transportasi adalah yang paling terdampak, apalagi dalam situasi dan kondisi  wabah Covid-19 yang tidak menentu ini. Akibatnya, terjadi pengurangan antara 30-40 persen,” tandas Khoiri.

    Dalam kesempatan itu, Khoiri juga membeberkan sejumlah  ganjalan perusahaan pelayaran dalam pengembangan operasional kapal. Misalnya , mengenai tingginya biaya-biaya pelabuhan yang seharusnya diturunkan. 

    Sekaligus penghapusan biaya penerimaan negara bukan pajak (PNBP), termasuk di antaranya tax holiday yang semestinya dibebaskan dari pajak.

    “Karena, pajak yang dikenakan kepada perusahaan pelayaran adalah pajak final. Pajak ini dihitung dari pendapatan, bukan dari keuntungan. Sehingga, ketika perusahaan merugi, tetap dikenakan pajak tersebut,”  katanya. (ded/kus)
    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Kinerja Angkutan Penyeberangan Menurun, Butuh Perhatian Pemerintah Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas