728x90 AdSpace

  • Latest News

    Jumat, 29 November 2019

    Dua Ahli Hukum dan Jaksa Debat, Beda Pemahaman Nikah Adat Tionghoa



    SURABAYA (mediasurabayarek.com)  –  Sidang lanjutan terdakwa Henry J Gunawan dan Iuneke , kali ini dengan agenda menghadirkan dua saksi ahli dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Jakarta, Dr Arovah Windiani, SH, MH dan Dr Choirul Huda,SH, MH di ruang Garuda 2 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (28/11/2019).

    Kedua saksi ahli itu diharapkan bisa  meringankan pasutri Henry J Gunawan dan Iuneke Anggraini, terdakwa kasus pemalsuan keterangan pernikahan pada akta otentik.

    “Sebelum memberikan pendapat, saudara disumpah dulu ya sesuai dengan agama dan kepercayaan masing -masing ,” ucap  Ketua majelis hakim Dwi Purwadi saat membuka persidangan di ruang Garuda 1  PN  Surabaya, Kamis (28/11/2019).


    Kedua ahli hukum tersebut didengarkan pendapatnya secara bersamaan. Tim penasehat hukum kedua terdakwa yang diketuai Hotma Sitompul mendapat giliran pertama untuk bertanya, kemudian dilanjutkan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Ali Prakoso.

    Dalam persidangan, sempat terjadi perdebatan antar ahli hukum perdata, Arovah dengan jaksa Ali Prakoso saat  bertanya perihal  pemahaman mengenai tata cara perkawinan adat Tionghoa menurut hukum Indonesia yang menurut pengakuannya telah dilakukan oleh kedua terdakwa.


    “Saya tiidak tahu,” kata Arovah menjawab pertanyaan jaksa Ali Prakoso.

    Mendengar jawaban ini, JPU Ali Prakoso tidak bertanya  lebih jauh lagi soal keabsahan perkawinan adat ini.


    Tak hanya itu, perdebatan juga terjadi antara Jaksa Ali Prakoso dengan ahli pidana, Choirul Huda saat ditanya terkait pasal 266 KUHP apakah delik aduan atau bukan delik aduan.

    “Menurut ahli apakah pasal 266 ini merupakan bukan delik aduan?,” tanya Jaksa Ali Prakoso.

    “Jangan membandingkan pendapat saudara dengan saya, ya memang bukan delik aduan,”  cetus Choirul Huda.

    Kemudian jaksa Ali Prakoso juga bertanya mengenai pendapat Choirul Huda mengenai apa yang dimaksud dengan memberi keterangan dalam pasal 266 KUHP.

    “Begini,  contohnya ada seseorang yang mengatakan dirinya suami dan istri dalam pembuatan akte otentik apakah itu bisa disebut sebagai sebuah keterangan ?,” tanya Jaksa Ali Prakoso.

    Choirul Huda menjawab, memang hal itu adalah sebuah keterangan. 

    Persidangan perkara ini akan dilanjutkan satu minggu lagi dengan agenda ahli meringankan lainnya yang dihadiri oleh kedua terdakwa.

    “Sidang hari ini dinyatakan selesai dan kembali dilanjutkan hari Kamis,  5 Desember,” ungkap hakim Dwi Purwadi seraya mengetukkan palunya sebagai pertanda sidang ditutup. 

    Usai persidangan, JPU Ali Prakoso menganggap keterangan kedua ahli hukum yang dihadirkan kedua terdakwa justru dianggap menguntungkannya.

    “Keterangan kedua saksi ahli itu jelas menguntungkan kami sebagai penuntut umum. Seperti keterangan ahli perdata tadi, Dia dihadirkan sebagai ahli perkawinan, tapi ketika kita tanya tentang tata cara perkawinan adat Tionghoa saja dia tidak tahu,”  tukas  Ali Prakoso .


    Sebagaimana  diketahui, perkara ini dimulai dari pembuatan 2 akta yakni perjanjian pengakuan utang sebesar Rp 17 milliar dan personal guarantee yang dibuat oleh PT Graha Nandi Sampoerna sebagai pemberi hutang dan Henry J Gunawan sebagai penerima hutang di hadapan notaris Atika Ashiblie SH di Surabaya pada tanggal 6 Juli 2010.

    Dalam kedua akta tersebut Henry J Gunawan dan Iuneke Anggraini mengaku sebagai pasangan suami istri (Pasutri) dan faktanya, mereka baru resmi menikah secara agama Budha di Vihara Buddhayana Surabaya pada 8 November 2011 dan dinikahkan oleh pendeta Shakaya Putra Soemarno Sapoetra serta baru dicatat di Dispenduk Capil pada 9 November 2011. (tim)
    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Dua Ahli Hukum dan Jaksa Debat, Beda Pemahaman Nikah Adat Tionghoa Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas