728x90 AdSpace

  • Latest News

    Minggu, 10 November 2019

    Komite Keselamatan Konstrusksi Sebut Jalan Gubeng Ambles Akibat Rembesan Di Luar Dinding








    SURABAYA (mediasurabayarek.com) - Lanjutan sidang amblesnya Jalan Gubeng, dengan agenda pemeriksaan saksi  Paul Retika dan Cornelius Retika dari PT. Ketira Consultan Enginering yang diperiksa secara bersamaan di ruang Candra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin  (4/11/2019).

    Dalam sidang kali ini, terungkap bahwa Komite Keselamatan Konstrusksi pernah menyimpulkan bahwa amblesnya jalan Gubeng akibat ada rembesan di luar dinding yang menyebabkan penurunan permukaan air tanah.


    Dalam keterangannya, 
    saksi Cornelius (Direktur Umum)  PT. Ketira Consultan Enginering menyatakan,  kebocoran tersebut dampaknya sangat besar, dan itu mengindiasikan bahwa ada pekerjaan yang tidak benar dalam arti antara teori dan pelaksaan tidak sesuai.

    “Direksi PT Ketira menginginkan agar pelaksanaan dengan teori berimbang. Setelah dilakukan peninjauan, PT Ketira memanggil Pak Rudi agar dilakukan perbaikan,” ujar saksi Cornelis.


    Menurutnya, sebelum Gubeng ambles, dirinya pernah tiga kali bertemu dengan PT. NKE. Pertemuan pertama di Karawaci dan dua kali di lapangan.


    “Pada pertemuan di Gubeng dengan Prof Herman Wahyudi disimpulkan semua aman dan bisa dilanjutkan tapi dengan catatan agar berhati-hati,” kata saksi.

    Akibat longsornya jalan Gubeng kata saksi Cornelius juga diakibatkan penguncian baji pada sistem ground anchor yang tidak optimal sehingga daya strek menjadi lemah.


    “Selain itu,  ada masalah di baji. Baji itu bagian daru strek. Strek tidak dapat bekerja apa-apa tanpa didukung baji yang baik. Kalau bajinya yang kalah maka buyar semua sistimnya,” cetus saksi.



    Sementara  itu, saksi Paul Retika (Direkur Utama )  PT. Ketira Consultan Enginering mengakui pernah diperiksa di Polda Jatim. 

    Sesuai BAP, tugas dan tanggung jawab Paul termasuk pengawasan keseluruhan proses, dan bukan hanya mengkoreksi pekerjaan-pekerjaan di lapangan.

    “Termasuk  pula memeriksa gambar-gambar dari bawahannya. Proyek Gubeng semua perencanaannya dibuat oleh PT. Ketira,” ungkapnya. 

    Ketika ditanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmat Hari Basuki, apakah longsornya Jalan Gubneg itu ada kaitannya dengan perencanaan? 

    Dan, apakah longsinya gubeng akibat perencanaan yang tidak benar ?


     Atas dua pertanyaan itu saksi tidak memberikan jawabannya. Bahkan,  saksi Paul juga tidak memberikan jawabannya saat dijelaskan oleh JPU bahwa penyebab Gubeng ambles dimulai sejak pengetesan tanah.

    CV. testasna yang melakukan penyelidikan tanah, ternyata tidak melakukan pengujian geodisi. Tidak melakukan pengujuan triaksial dan tidak melakukan pengujian debit air tanah.


    Seusai sidang, Martin Suryana, kuasa hukum PT Saputra Karya mengatakan,  kebocoran itu mengakibatkan penurunan permukaan tanah, dan menekan ground anchor sehingga tali strenght terputus. 

    "Dan setelah kita runtut ternyata itu masih menjadi tanggung jawab dari pihak perencana proyek yakni PT. Ketira. Namun biar majelis hakim yang menyimpulkannya,” kata Martin Suryana SH. 


    Diungkapkan Martin Suryana SH, bahwa proyek  itu  semuanya ada izinnya. IMB-nya lengkap dan peruntukannya tetap rumah sakit hanya ditambah fungsinya dan menjadi mix use development dan itu sudah sesuai aturan. Jadi sudah clear.




    Sebagaimana diketahui,  kasus jalan Raya Gubeng ambles ini Polda dan Kejaksaan Tinggi Jatim mendudukkan enam terdakwa. Tiga terdakwa dari PT. Nusa Konstruksi Enginering (NKE) yakni Budi Susilo (direktur operasional), Aris Priyanto (site manajer) dan Rendro Widoyoko (project manajer. Sedangkan dari PT Saputra Karya (SP) adalah Ruby Hidayat, Lawi Asmar Handrian, dan Aditya Kurniawan Eko Yuwono.


    Pada perkara ini, keenam terdakwa didakwa dengan Pasal berlapis. Pada dakwaan kesatu, mereka dianggap melanggar Pasal 192 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.


    Sedangkan dalam dakwaan kedua, mereka disangkakan melanggar 63 ayat (1) UU RI Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan, Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1. (ded)



























    Perkara Ambles Jalan Gubeng JPU Hadirkan Saksi Kepala Bappeko dan Kabid Bangunan







    SURABAYA (mediasurabayarek.com) - Komite Keselamatan Konstrusksi Menyimpulkan Jalan Gubeng Ambles Akibat Ada Rembesan Diluar Dinding









    SURABAYA, Paul Retika dan Cornelius Retika dari PT. Ketira Consultan Enginering diperiksa secara bersamaan sebagai saksi dalam sidang Jalan Gubeng ambles.

    Dalam sidang terungkap bahwa Komite Keselamatan Konstrusksi pernah menyimpulkan bahwa amblesnya jalan Gubeng akibat ada rembesan diluar dinding yang menyebabkan penurunan permukaan air tanah.

    “Lalu kebocoran itu mengakibatkan penurunan permukaan tanah, dan menekan ground anchor sehingga tali strenght terputus. Dan setelah kita runtut ternyata itu masih menjadi tanggung jawab dari pihak perencana proyek yakni PT. Ketira. Namun biar majelis hakim yang menyimpulkannya,” kata Martin Suryana, kuasa hukum PT Saputra Karya. Senin (4/11/2019) usai sidang.

    Sebelumnya, saksi Cornelius direktur umum PT. Ketira Consultan Enginering, dihadapan majelis hakim menyatakan kebocoran tersebut dampaknya sangat besar, dan itu mengindiasikan bahwa ada pekerjaan yang tidak benar dalam arti antara teori dan pelaksaan tidak sesuai.

    “Direksi PT Ketira menginginkan agar pelaksanaan dengan teori berimbang. Setelah dilakukan peninjauan, PT Ketira memanggil Pak Rudi agar dilakukan perbaikan,” ujar saksi Cornelis.

    Diterangkan oleh saksi, sebelum Gubeng ambles, dirinya pernah tiga kali bertemu dengan PT. NKE. Pertemuan pertama di Karawaci dan dua kali di lapangan.

    “Pada pertemuan di Gubeng dengan Prof Herman Wahyudi disimpulkan semua aman dan bisa dilanjutkan tapi dengan catatan agar berhati-hati,” terang saksi.

    Longsornya jalan Gubeng kata saksi Cornelius juga diakibatkan penguncian baji pada sistem ground anchor yang tidak optimal sehingga daya strek menjadi lemah.

    “Juga ada masalah di baji. Baji itu bagian daru strek. Strek tidak dapat bekerja apa-apa tanpa didukung baji yang baik. Kalau bajinya yang kalah maka buyar semua sistimnya,” tambah saksi.

    Sementara saksi Paul Retika selaku direkutru utama PT. Ketira Consultan Enginering mengakui pernah diperiksa di Polda Jatim. Sesuai BAP, tugas dan tanggung jawab Paul termasuk pengawasan keseluruhan proses, dan bukan hanya mengkoraksi pekerjaan-pekerjaan dilapangan.

    “Termasuk memeriksa gambar-gambar dari bawahannya. Proyek Gubeng semua perencanaannya dibuat oleh PT. Ketira,” katanya di PN. Surabaya.

    Ditanya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rahmat Hari Basuki, apakah longaornya Jalan Gubneg itu ada kaitannya dengan perencanaan,? Apakah longsinya gubeng akibat perencanaan yang tidak benar. Atas dua pertanyaan itu saksi tidak memberikan jawabannya.

    Tak hanya itu saja, saksi Paul juga tidak memberikan jawabannya saat dijelaskan oleh JPU bahwa penyebab Gubeng ambles dimulai sejak pengetesan tanah. CV. testasna yang melakukan penyelidikan tanah, ternyata tidak melakukka pengijian geodisi. Tidak melakukan pengujuan triaksial dan tidak melakukan pengujian debit air tanah.

    Perlu diketahui, dalam kasus jalan Raya Gubeng ambles ini Polda dan Kejaksaan Tinggi Jatim mendudukkan enam terdakwa. Tiga terdakwa dari PT. Nusa Konstruksi Enginering (NKE) yakni Budi Susilo (direktur operasional), Aris Priyanto (site manajer) dan Rendro Widoyoko (project manajer. Sedangkan dari PT Saputra Karya (SP) adalah Ruby Hidayat, Lawi Asmar Handrian, dan Aditya Kurniawan Eko Yuwono.

    Pada perkara ini, keenam terdakwa didakwa dengan Pasal berlapis. Pada dakwaan kesatu, mereka dianggap melanggar Pasal 192 ayat (1) ke 1 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

    Sedangkan dalam dakwaan kedua, mereka disangkakan melanggar 63 ayat (1) UU RI Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan, Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1.






















    Sidang lanjutan yang dipimpin Hakim Ketua R. Anton dengan perkara Amblesnya Jalan Gubeng Surabaya, diduga dampak pembangunan Rumah Sakit Siloam. JPU Hari dari Kejati menghadirkan dua saksi yakni kepala Bappeko Eri Cahyadi dan Kabid Bangunan dan Gedung Lasidi di Ruang Cakra 2 PN. Surabaya, Senin (28/10/2019).

    Saksi Eri di Persidangan menyatakan, bahwa PT Saputra Karya sudah mengajukan izin pembangunan proyek Mix Use Development Gubeng sesuai mekanisme perizinan.

    “Keterangan yang disampaikan sesuai fakta, artinya ya proses prosedur mekanisme perizinan sesuai dengan mekanisme, sudah sesuai aturan,” kata penasihat hukum PT Saputra Karya Martin Suryana usai menjalani persidangan.

    “Tadinya sesuai kesaksiannya, berkali-kali ditegaskan oleh Pak Eri selaku Kepala Dinas Cipta Karya waktu itu bahwa semua proses sudah sesuai perizinan,” tambah Martin Pemgacara Terdakwa.

    Martin menolak jika kliennya selaku owner proyek selama ini dikatakan membangun tanpa ada perizinan atau Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Dia juga membantah ada perubahan peruntukan, sebab izin yang semua untuk rumah sakit tetap ada. Cuma ada memang ditambahkan fasilitas lain berupa hotel.

    “Dana dalam proyek ini tidak ada lagi istilah proyek tanpa perizinan semuanya ada izinnya. IMB-nya lengkap dan tidak benar bahwa ada yang mengatakan, ada perubahan peruntukan yang semula rumah sakit kemudian menjadi hotel,” sebutnya.

    “Tetap rumah sakit hanya ditambah fungsinya dan menjadi mix use development dan itu sudah sesuai aturan. Jadi sudah clear,” jelasnya

    Sedangkan Rahmat Hari JPU dari Kejati Jatim usai Pesidangan di ruang Cakra dikonfirmasi Wartawan menyatakan, hal ini nanti kita tetap kita kejar siapa pemohon yang mengajukan izin. Saksi masih banyak yang belum di hadirkan di persidangan selanjutnya.

    “Setelah semuanya bersaksi nanti pasti ketemu” tegas Hari.

    Untuk di ketahui, dalam perkara amblesnya jalan Gubeng enam orang telah menjadi terdakwa yaitu; Tiga pejabat dari Kontraktor PT. Nusa Konstruksi Enginering, Budi Susilo, Rendro Widoyoko dan Aris Priyanto. Sedangkan Tiga dari PT. Saputra Karya, Lasmi Awar Handrian, Ruby Hidayat dan Aditya Kurniawan.

    Sidang sebelumnya, ke enam terdakwa didakwa melakukan tindak pidana sebagaimana tercantum dalam pasal 192 ayat 1 KUHP jo pasal 55 ayat 1 KUHP.




































    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Komite Keselamatan Konstrusksi Sebut Jalan Gubeng Ambles Akibat Rembesan Di Luar Dinding Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas