728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 16 Oktober 2019

    Penasehat Hukum Henry dan Iuneke Siap Hadapi Sidang Pemeriksaan Pokok Perkara


       Masbuhin SH MH,



       Suasana sidang


    SURABAYA (mediasurabayarek.com) -  Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menolak semua dalil-dalil eksepsi kuasa hukum Bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) Henry Jocosity Gunawan dan istrinya, Iuneke Anggraini , yang tersandyng kasus dugaan pemalsuan keterangan pernikahan dalam  akta otentik di ruang Garuda 1 PN Surabaya, Selasa (15/10/2019).

    Dalam amar putusan sela yang disampaikan Hakim Ketua Dwi Purwadi SH MH menyatakan, mengadili dan  keberatan atas eksepsi penasehat hukum para terdakwa tidak dapat diterima dan memerintahkan Penuntut Umum melanjutkan pemeriksaan perkara nomor 2656/Pid.B/2019/PN.Surabaya atas nama para terdakwa tersebut di atas dan menangguhkan biaya perkara sampai dengan putusan akhir.

    "Majelis hakim tidak sependapat dengan dalil-dalil penasehat hukum para terdakwa yang menyebut surat dakwaan cacat prosedur. Hakim menilai, Keberatan tersebut bukanlah kewenangannya untuk menilai, melainkan menjadi kewenangan internal Kejaksaan," ucapnya.

    Untuk perihal keberatan tim penasehat hukum terkait eror in prosedur penyidikan,  kata hakim Dwi Purwadi, hendaknya diajukan melalui forum praperadilan dan tidak dapat dijadikan alasan majelis hakim untuk menolak surat dakwaan penuntut umum.

    “Dan  pemeriksaan pada perkara ini adalah untuk memeriksa apakah para terdakwa terbukti melakukan tindak pidana yang didakwakan,” kata  Dwi Purwadi SH.


    Majelis hakim juga menolak keberatan tim penasehat hukum yang menyoal surat dakwaan batal demi hukum karena disusun secara tidak cermat, tidak jelas, dan tidak lengkap karena tidak memuat waktu dan tempat kejadian tindak pidana para terdakwa.

    “Majelis berpendapat surat dakwaan sudah menyebut waktu dan tempat kejadian perkara serta sudah memuat uraian yang seksama, teliti, terang dan lengkap tentang tindak pidana yang didakwakan,” cetus Dwi Purwadi.

    Sehabis sidang,  Masbuhin SH MH, Ketua tim penasehat hukum terdakwa Henry dan Iuneke mengatakan, pihaknya siap  menghadapi persidangan pembuktian perkara ini. 

    “Atas pertimbangan putusan tadi akan kami gali lebih dalam lagi saat persidangan pokok perkara. Untuk efisiensi waktu, maka saya lebih cenderung untuk mengambil posisi dan siap menghadapi persidangan dalam  pemeriksaan pokok perkara,” ungkap Masbuhin .


    Karena Masbuhin  memiliki keyakinan dan seyakin yakinnya ada fakta-fakta  hukum yang sengaja  dipotong dalam kasus ini. Sehingga perkawainan tahun  1998 ketika  menikah (Henry J Gunawan  dan Iuneke ) itu oleh penyidik sengaja  dipotong dan ditampilkan fakta tahun 2011 ketika pencacatan saja. 


    Terhadap eksepsi ini sudah diprediksi  sejak awal, tetapi saya sudah mampu membingkai dan membangun sebuah fakta fakta hukum  yang kuat  dan tidak ada alasan perkara ini dikabulkan dalam putusan akhirnya. 

    "Saya yakin putusan ini harus bebas (vrijspraak)," tukas Masbuhin SH MH.

    Alasannya adalah perkawiinan secara adat Tionghoa sah adalah sah  secara agama dan hukum. Kalau muslim menyebutnya  nikah siri.  Dalam pasal 2 ayat (1) UU No 1 Tahun 1974 itu dinyatakan perkawinan itu sah, apabila perkawinan diilakukan secara agama, adat dan kepercayaan masing-masing. 


    Dalam persidangan pembuktian kasus ini akan kembali digelar pada Selasa, 5 November 2019 mendatang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso.


    Sebagaimana diketahui, Henry dan Iuneke didakwa melanggar Pasal 266 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

    Henry dan istrinya diadili setelah diketahui memberikan keterangan palsu dalam 2 akta otentik yakni perjanjian pengakuan hutang dan personal guarantee antara PT Graha Nandi Sampoerna sebagai pemberi hutang dan Henry Jocosity Gunawan sebagai penerima hutang sebesar Rp 17.325.000.000 (Tujuh Belas Miliar, Tiga Ratus Dua Puluh Lima Juta Rupiah) di hadapan notaris Atika Ashiblie SH di Surabaya pada tanggal 6 juli 2010 dihadiri juga oleh Iuneke Anggraini.

    Dalam kedua akte tersebut Henry Jocosity Gunawan menyatakan mendapat persetujuan dari istrinya yang bernama Iuneke Anggraini, keduanya sebagai suami istri menjamin akan membayar hutang tersebut, bahkan Iuneke pun ikut bertanda tangan di hadapan notaris saat itu.

    Namun demikian, belakangan terungkap bahwa perkawinan antara Henry Jocosity Gunawan dengan Iuneke Anggraeni baru menikah pada tanggal 8 November 2011 dan dilangsungkan di Vihara Buddhayana Surabaya dan dicatat di dispenduk capil pada 9 November 2011.  (ded)
    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Penasehat Hukum Henry dan Iuneke Siap Hadapi Sidang Pemeriksaan Pokok Perkara Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas