728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 23 Oktober 2019

    Kedua Terdakwa Membenarkan Tanda Tangan Johny Pada Surat Penunjukan






    SURABAYA (mediasurabayarek.com) -   Sidang lanjutan dugaan pemalsuan surat dan tanda tangan dengan terdakwa Dandy Mellanda dan Girdani Gania, telah memasuki  agenda  pemeriksaan  terdakwa yang digelar di ruang Tirta 1  di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (23/10/2019).



    Dalam keterangannya, Dendy menyatakan, bahwa dirinya diberitahu oleh Girdany ada pekerjaan di Madura. Dendy yang lukusan sekolah arsitek itu bersedia menggarap perumahan Metro  Villa Residence.

    Mulanya, ada pertemuan di antara mereka di Hotel Redtop Jakarta. Lalu, Johny meminta Dendy melanjutkan proyek perumahan tersebut, yang semula digarap Vera. 

    Namun demikian, kerjasaman di antara mereka semula hanyalah perjanjian lisan saja. Lantas, pertemuan dilanjutkan di Surabaya dan ada kesepakatan di antara mereka berempat untuk membuat CV Surya Gemilang.

    Dalam susunan perusahaan, Dendy sebagai Dirut dan Girdani menjadi Wakil Direktur. Mereka mulai menggarap proyek perumahan. Di tengah-tengah perjalanan, Johny Wijaya meninggal dunia.

    "Ada tagihan yang diminta Dendy dan Girdani pada Johny, sebagaimana tertera dalam surat penunjukan dengan tagihan sebesar Rp 3,5 miliar. Tetapi, hal itu tidak diakui oleh istri Johny maupun anak-anaknya," ucap Dendy.

    Dijelaskan Dendy dan Girdani, bahwa ada  kesepakatan dan  surat penunjukkan yang diparaf  oleh Johny dan Dendy. 

    "Tanda tangan dalam surat penunjukan itu memang benar milik Johny. Kami hanya menuntut hak kami atas apa yang telah dikerjakan. Proyek sudah dikerjakan sekitar 70 persen. Kami hanya bermodalkan kepercayaan secara lisan," cetus Dendy.

    Nah, ketika Johnya telah meninggal dua atau tiga bulan kemudian, Dendy dan Girdani menanyakan dan mengajukan surat klarifikasi, apakah proyek dilanjutkan atau tidak. 

    "Bagi kami wajar untuk menanyakan dan mengajukan surat klarifikasi.  Tetapi tidak mendapatkan tanggapan sama sekali. Dalam surat  penunjukkan yang buat Dendy dan  Johny itu ditolak oleh keluarga Johnya (istri dan anaknya). Ada tuntutan tagihan Rp 3, 5 miliar. Itu memang benar  tanda tangan Johny pada surat penunjukan itu," ungkap Dendy.

    Dalam sidang yang dipimpin oleh hakim ketua Dede Suryaman SH dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bunari SH dan Sabethania SH , akan dilanjutkan dengan pembacaan tuntutan oleh JPU pada Senin (28/10/2019). 

    "Tuntutan akan dilakukan jaksa pada Senin (28/10) depan," tukas Hakim Ketua Dede Suryaman.



    Seusai sidang , kuasa hukum terdakwa, Peter Manuputy SH mengatakan, bahwa kedua terdakwa adalah mitra kerja dan bukan karyawan. 




    "Surat klarifikasi yang diajukan terdakwa tidak pernah dijawab. Hasil labfor Polda Jatim tentang tanda tangan dinyatakan non-identik. Tidak ketahuan siapa yang melakukan hal itu," tukas Peter Manuputy SH.

    Perkara yang dihadapi kedua terdakwa, yakni Dandy Mellanda dan Girdani Gania adalah perkara perdata murni, dan bukan pidana. 


    Sebagaimana diketahui kedua terdakwa dianggap  melanggar pasal 263 ayat (1) jo Pasal 55 ayat(1) ke 1 KUHP, yang tidak berlandaskan pada fakta riil dan tidak ada hubungan hukum antara terdakwa dan pelapor. (ded)
    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Kedua Terdakwa Membenarkan Tanda Tangan Johny Pada Surat Penunjukan Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas