728x90 AdSpace

  • Latest News

    Rabu, 11 September 2019

    Kuasa Hukum Terdakwa Sebut Perkara Welly Adalah Perdata, Tiga Saksi Tak Terlibat Langsung




    SURABAYA (mediasurabayarek.com) –  Sidang terdakwa Welly Tanubrata yang dijerat pasal 378 (penipuan)   jo 64 ayat (1) KUHP, telah memasuki babak pemeriksaan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang digelar di ruang Sari 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (5/9/2019).

    Kali ini, JPU Yusuf  Akbar dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak menghadirkan tiga saksi sekaligus. Mereka adalah  Repeka Hendrawati (istri alm, Andrias Thamrun ) , Fenny Gunawan, Lastri (Asisten Rumah Tangga /ART).


    Dalam keterangannya, saksi Repeka  Hendrawati mengenal terdakwa Welly sejak lima  tahun  lalu. Setahu dirinya, Alm. Andrias Thamrun  menjual ruko milik  suaminya pada mama Welly  Tanubrata.

    "Suami saya sudah meninggal sejak enam bulan lalu. Realisasi jual -beli ruko, uang pembayaran sebesar Rp 5 miliar sudah dilunasi. Tetapi, rukona belum dikasihkan beserta surat-suratnya," ucapnya.

    Menurut Repeka, alm. suaminya pernah meminta sertifikat ruko yang telah dibelinya, namun sertifikat ruko masih ada pada orang lain. Bahkan, ruko itu disewakan pada orang lain.

    "Sempat diberikan cek pada Repekan Rp 62 juta, katanya untuk membayar bunga.  Saat ini, nggak ada perdamaian," katanya.

    Hakim ketua, Maxi Sigarlaki SH pada saksi Repeka, apakah pernah dibuatkan perjanjian akte jual-beli ruko. "Nggak pak hakim. Antara alm, Andrias Thmarun dan Welly itu saling percaya. Katanya, mau kasih bunga sampai Rp 1 miliar, tetapi nggak dikasih. Korban seringkali dikasih cek, namun ditolak bank," cetus Repeka.

    Sementara itu, kuasa hukum terdakwa Welly, Hartoyo SH menanyakan pada Repeka , kapan Welly berhutang pada Alm, Andrias Thmarun.


    Repeka menjawab, tidak ingat pastinya, namun setelah membayar lunas ruko seharga Rp  5 miliar, Welly berhutang lagi pada Andris Thamrun. "Suami saya (alm, Andrias Thmarun) stress dan meninggal dunia. Saya nggak terima," kata Repeka.

    Hal senada diungkapkan Fenny Gunawan (anak Repeka) ,  jual-beli ruko itu tidak ada suratnya.   "Tak pernah terjadi akta jual beli ruko. Saya mendengar papa (alm, Andrias Thamrun) menjual ruko di  Jl. Kertajaya seharga  Rp 5  miliar dan pembayaran dilakukan secara bertahap sampai lunas. Papa yang tahu soal pembayarannya. Tetapi surat-suratnya tidak diserahkan terdakwa Welly," tukas Fenny.

    Bahkan, surat-surat ruko dijaminkan pada orang lain. "Saya nggak tahu siapa itu. Ruko disewakan pada orang lain.  Ada  kompensasi Rp 62,5 juta berupa cek dari Bank BCA, tetapi cek kosong. Ketika dicairkan tidak bisa. Saya heran, papa kok begitu percaya pada Welly," tandasnya.

    Diakui Fenny, pihaknya sempat menggunakan jasa pengacara dan mensomasi Welly dalam perkara ini.

    Sehabis sidang, kuasa hukum terdakwa Welly, Hartoyo SH menegaskan, bahwa pembelian ruko itu tidak ada kejelasan, karena semuanya dilakukan secara lisan. Korban Andrias Thamrun sudah meninggal dunia, para saksi yang dihadirkan tidak terlibat langsung dalam jual-beli ruko tersebut.

    "Menurut klien kami (Welly-red), perkara ini adalah pinjaman dan sudah  ada beberapa pembayaran yang dilakukan dengan memberikan piano, genset, lampu kristal dan lainnya. Itu dilakukan , karena nggak bisa membayar pinjaman.  Mereka sepakat memberikan barang yang dipunyai Welly diberikan pada Andrias," kata Hartoyo SH.

    Nah , setelah kasus ini mencuat, pengembalian pinjaman tidak bisa dilakukan. Pengacara Andrias Thamrun mengundang dan mensomasi Welly.

    "Somasi itu kan arahnya perdata.   Awalnya, memang perdata. Unsur penipuannya itu di mana ? Hanya karena saling percaya (antara Welly dan alm. Andrias Thamrun). Tetapi, semuanya tergantung pertimbangan hakim gimana nantinya," cetus Hartoyo SH.


    Sebagaimana dalam dakwaan JPU, dalam perkara 2122/Pid.B/2019/PN Sby, itu bermula terdakwa Welly Tanubarata pada Agustus 2016  sampai Februari  2018 bertempat di rumah saksi Andrias Thamrun diJl Kupang Indah I/17 RT 004 RW 005 Kel Sono, Kwijenan Kec . Sukomanunggal Surabaya.


    Pada Agustus 2016 di rumah saksi Andrias Thamrun dan saksi Repeka Hendrawati di di Jl Kupang Indah I/17 RT 004 RW 005 Kel Sono, Kwijenan Kec . Sukomanunggal Surabaya. 

    Terdakwa bersama- sama ibunya, Mariani datang ke rumah saksi Andrias Thamrun dan saksi Repeka Hendrawati dengan maksud untuk meminta tolong kepada saksi Andrias Thamrun untuk membeli ruko atas nama  Mariani Tanubrata yang terletak di jl Kertajaya No 41 Surabaya seharga Rp 5 miliar. 

    Saat itu, saksi Andrias Thamrun tidak diperlihatkan surat surat ruko oleh terdakwa.  Ini mengingat  Andrias Thamrun sudah kenal lama dengan terdakwa. Maka saksi Andrias  selanjutnyua menyepaktinya.

    Saksi Andrias Thamrun menyuruh saksi Repeka Hendrawati , istrinya untuk menstransfer  pembelian ruko secara bertahap ke rekening terdakwa welly Tanubrata di bank BCA.

    Sehingga total pembayaran yang dilakukan saksi Andrias  Thamrun sebesar Rp 5 miliar. Atas perbuatan terdakwa ini, dijerat pasal 378  jo 64 ayat (1) KUHP. (ded)
    • Blogger
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Kuasa Hukum Terdakwa Sebut Perkara Welly Adalah Perdata, Tiga Saksi Tak Terlibat Langsung Rating: 5 Reviewed By: Media Surabaya Rek
    Ke Atas